Tampilkan postingan dengan label Healthy Beverages. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Healthy Beverages. Tampilkan semua postingan
Dalam berbagai iklan minuman energi, sering kali digambarkan bahwa seseorang yang menenggak minuman tersebut menjadi bertambah kuat, bahkan mampu mendorong truk yang hampir jatuh ke jurang. Benarkah minuman energi mampu menambah tenaga?

Minuman energi yang beredar di pasaran pada umumnya mengandung kafein dan taurin. Dilihat dari strukturnya, kedua senyawa itu bukanlah molekul sumber energi. Selain itu, minuman energi juga mengandung banyak gula yang memang bisa meningkatkan energi. Kombinasi bahan-bahan dalam minuman energi mungkin akan merangsang saraf pusat untuk memicu reaksi metabolisme (menghasilkan energi) di otot.

Mekanismenya melalui pengaktifan kerja saraf yang menghasilkan percepatan denyut jantung untuk memompa darah dan oksigen, sembari menstimulasi peningkatan kadar gula darah. Reaksi ini akan lebih aktif dengan penambahan vitamin-vitamin.

Sayangnya, energi yang dihasilkan pun bersifat sementara, tak lebih dari beberapa jam. Oleh karena itu, lebih tepat bila minuman energi disebut sebagai stimulan energi.

Yang harus dipahami adalah efek samping dari kandungan minuman energi. Misalnya saja kandungan gula yang tinggi bisa menyebabkan kegemukan. Selain itu, kafein memiliki beberapa efek, seperti denyut jantung lebih cepat, tekanan darah meningkat, dan meningkatkan aliran darah ke otot. Hal ini tentu berbahaya bagi penderita penyakit jantung.

Bila Anda ingin menambah energi karena sering merasa kelelahan atau kurang konsentrasi, pertimbangkan untuk memilih cara yang lebih sehat untuk memulihkan energi. Misalnya dengan cukup tidur, olahraga ringan, atau mengonsumsi makanan bergizi. Strategi ini bukan hanya akan menghasilkan energi, melainkan juga menjaga kebugaran fisik dan psikologis dalam jangka panjang.
»»  Baca Selanjutnya...
Chef Online - Bila Anda ingin mengunjungi nenek atau orangtua yang sudah lanjut usia, jangan lupa berikan teh hijau sebagai buah tangan. Penelitian menunjukkan, orang lanjut usia yang sering mengonsumsi teh hijau lebih jarang mengalami perasaan sedih dan kesepian.

Dr.Kaijun Niu dari Tohoku University Graduate School of Biomedical Engineering, Jepang, dan timnya menemukan bahwa kakek atau nenek berusia 70 tahun atau lebih yang rutin mengonsumsi empat cangkir lebih jarang mengalami gejala depresi yang kerap dirasakan para lansia akibat kesepian.

Manfaat teh hijau dalam menurunkan kadar masalah-masalah psikologis telah dinyatakan oleh banyak data dan literatur. Namun dalam studi yang dilakukan Kaijun Niu ini, ia hanya memfokuskan kaitan antara minum teh hijau dan gejala depresi pada 1.058 orang lanjut usia.

Kandungan teh hijau, yakni asam amino thenine, dipercaya memiliki efek menenangkan di otak. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa para lansia yang rutin minum teh hijau empat cangkir atau lebih setiap harinya lebih jarang mengalami depresi. Sebagai perbandingan, minuman yang populer lain, seperti teh hitam atau teh oolong, atau kopi tidak memiliki manfaat serupa.
»»  Baca Selanjutnya...
Chef Online - Berat ringannya perasaan pusing, mual, atau tak enak badan yang sering dirasakan pada waktu bangun pagi setelah minum minuman keras tidak hanya bergantung pada jumlah minuman yang ditenggak, tetapi juga jenis minumannya.

Menurut peneliti dari Brown University, Inggris, minum wiski menyebabkan rasa pusing yang lebih buruk dibanding jika Anda menenggak vodka. Meski begitu, kebanyakan minum vodka pun tak membuat Anda bangun lebih segar esok paginya.

Kesimpulan tersebut dihasilkan lewat penelitian yang melibatkan 96 partisipan. Semuanya adalah orang sehat dan peminum alkohol. Sebelum diminta mengonsumsi wiski atau vodka, mereka melakukan aklimatisasi atau adaptasi dengan meminum alkohol sepertiga gelas.

Di hari kedua, barulah para partisipan ini diberi wiski atau vodka. Kemudian di hari ketiga, mereka diberi minuman yang tidak mengandung alkohol. Setiap pagi setelah malam sebelumnya mengonsumsi minuman, mereka ditanyai mengenai kondisi fisiknya dan diminta melakukan tes yang membutuhkan konsentrasi.

Partisipan yang mendapat minuman wiski mengaku lebih merasakan gejala tidak enak badan, seperti sakit kepala, mual, kehausan, dan kelelahan, dibanding mereka yang minum vodka. Meski begitu, baik peminum wiski maupun vodka, hasil tes konsentrasi mereka sama saja.

Profesor Damaris Rohsenow, kepala peneliti, mengatakan orang yang bekerja di bidang keselamatan bisa terganggu oleh minuman keras, bahkan jauh setelah alkohol itu sudah hilang di peredaran darah.

Menurut Rohsenow, jumlah molekul yang disebut congoners yang terdapat dalam vodka lebih sedikit dibanding wiski sehingga perasaan tidak enak yang dialami para peminum agak lebih baik. Selain itu, vodka juga hanya mengandung sedikit senyawa kimia seperti aceton, acetaldehyde, dan tannins. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal Alcoholism: Clinical and Experimental Research.
»»  Baca Selanjutnya...