Tampilkan postingan dengan label Chef Secret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chef Secret. Tampilkan semua postingan
Berangkat dari keluarga tak harmonis dan sempat harus berjuang sendiri di benua lain, Chef Juna terbentuk menjadi pribadi keras. Jalur kuliner dipilihnya karena ia tak punya ijazah sekolah.
Itu yang membuat Juna bekerja keras dalam karirnya. Ketika kini dia menjadi salah satu chef idola, itu adalah hasil kedisiplinan. Jarang tersenyum ramah di layar kaca, bukan berarti Juna tak punya hati. Tubuh penuh tato, bukan berarti Juna galak dan pemarah.

1. Jadi Chef Karena Kondisi


Menelan kecewa ketika sekolah tempatnya menempuh studi jadi pilot ditutup, Juna muda memilih bertahan di Amerika. Desakan ekonomi membuatnya bekerja jadi pelayan restoran. Dari sanalah karir kuliner ini berawal.

"Seorang koki yang melihat potensi, kerja keras serta kemauan saya menawarkan saya menjadi koki. Dia mengajari saya memasak. Semenjak saat itulah saya terjun ke dunia kuliner."

2. (Tidak) Jahat dan Kejam

Mengakui dirinya adalah pribadi keras dan tegas, Junamenolak disebut kejam. Hal itulah yang diterapkannya ketika menjadi juri dalam program sukses THE MASTERCHEF. Menurutnya, ketegasan itu semata karena ia ingin kontestan THE MASTERCHEF berhasil.

"Saya ingin mereka tahu apa yang saya lalui untuk menjadi seorang chef tidak mudah. Saya suka tersenyum dan tertawa kok, jadi kalo dibilang kejam, tidak juga sih."

3. Bisa Menangis..

Penonton program THE MASTERCHEF terhenyak ketika Juna meneteskan air mata dalam salah satu episode, karena salah satu kontestan, Chef Baguzt, keluar. Seolah baru tersadar, Juna adalah manusia biasa yang punya perasaan.

"Saya menangis karena saat itu puncak emosi saya. Chef Baguzt tidak mau mendengarkan nasehat saya, dan dia tidak pakai otak. Dia bilang masak pake hati, tapi saya bilang masak itu pakai otak."

"Jujur Baguzt adalah Chef yang baik dalam performance dan cita rasa, tetapi itu yang saya bilang, dia tidak mendengarkan saya. Itu yang membuat saya menangis, terlebih karena kedekatan emosional, di mana dari semua Chef, Baguzt sosoknya hampir sama seperti saya."

4. Punya Hobi dan Kesukaan


Mengendarai motor gede, Harley Davidson adalah spesifikasi hobi Juna. Tak ada film tentang memasak yang jadi kesukaan, tetapi siomay Bandung menjadi makanan kegemaran. Dia pun tak anti menyantap makanan yang dijual di pinggir jalan. Masakan bercita rasa pedas? Juna takkan ragu memakannya.
"Saya memang tipe orang yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan untuk tahu tentang kuliner, saya mencari sumber informasi dari semuanya, apalagi dari buku."

5. Selalu Menuntut Kesempurnaan

Bukan hanya dalam hal memasak yang selalu dikerjakannya dengan bersungguh-sungguh, namun segala hal. Tak heran, Juna menuntut kesempurnaan. Misalnya, memilih wanita cantik atau wanita cerdas, dia ingin wanita cantik dan cerdas.

"Masak bagi saya merupakan hal yang gak mudah dan gak semua orang bisa. Memasak bukan masalah kemampuan saja, tapi lebih kepada kemauan keras untuk bisa."

6. Tak Menyesal Bertato

Tampil di publik dengan tubuh dipenuhi tato, Junamenyatakan tak ada penyesalan. Dia mengenal tato di usia 15 tahun, hingga kini memenuhi tangan, punggung dan kakinya. Lebih suka tato berukuran besar atau block, menurut Juna semua tatonya punya kisah tersendiri.

"Memang awal-awal saya tato, saya takut tato saya terkena minyak saat memasak, tapi saya atasi dengan memasak menggunakan lengan panjang.  Tapi sekarang ini saya sudah tidak perduli sih, kalo terkena minyak ya gak papa, kan tuntutan pekerjaan."

"Kalo keinginan untuk menghapus tato ga ada tuh, saya merasa nyaman dengan tato saya. Di luar negeri, tato bukan menjadi acuan bagi seseorang untuk dapat bekerja. Bagi saya, tato adalah seni."

7. Suka Musik Death Metal

Musik ternyata kerap menemani Juna saat memasak, khususnya musik death metal. Rupanya, itu juga berpengaruh ke gaya busana. Itu sebabnya Juna punya sekitar 200 baju berwarna hitam. Bermain musik memang di luar kemampuannya, tetapi soal bernyanyi?

"Pernah nyanyi sih, tapi saya sudah lupa, dan itu suatu hal memalukan bagi saya yang gak akan pernah terulang lagi, tapi saya tidak mau menceritakannya. Saya tidak pernah bermain band."

8. Punya Rasa Takut

Gagal menjadi ayah, itu ketakutan terbesar seorang Chef Juna. Menikah selama 1,5 tahun, dia bertekad selalu jadi pelindung bagi anaknya. Dia pun berjanji tak mau memukul jika sang anak berbuat salah.

Daripada memukul, yang diinginkan Juna adalah mengetahui kesalahan itu dan memperbaikinya bersama. Apalagi, di masa mudanya, dia mengaku tak sedikit melakukan kenakalan.
9. Sangat Cinta Profesi
Berawal dari keterpaksaan kondisi, Juna menolak mengasihani dirinya sendiri. Dia berjuang dan bekerja keras, dan kini berbahagia ketika dituntut berkreasi dengan kreativitas. Karenanya, dia tak suka bermain-main saat memasak.

"Memasak adalah dunia saya, pekerjaan saya. Tidak ada batasan umur bagi saya untuk berhenti memasak atau pensiun. Rasa ingin tahu saya yang kuat membuat saya selalu terus berkreasi di dunia masak."

»»  Baca Selanjutnya...
Chef Online - Sejak dini lingkungan membekalinya dengan pengalaman kuliner yang praktis. Bekerja keras dan terus berusaha membuatnya mantap dengan panggilan jiwa sebagai seorang chef. Makanan tradisional pun menjadi salah satu keahlian chef yang murah senyum ini!

Mencari Pak Deden di tempatnya bekerja Hotel JW Marriott Jakarta, tidaklah sulit. Karena ia selalu berkeliling mengecek setiap penyajian makanan yang diolah dari dapur hotel. Seperti sore itu saat Chef Deden yang menjabat sebagai Executive Sous Chef mondar-mandir di Sailendra Restaurant dalam promo makanan Yordania yang berlangsung selama bulan ramadhan ini.

Postur tubuhnya yang gemuk kekar dan wajah ramah dan rajin menebar senyum membuat setiap orang percaya jika ia memang seorang chef professional. Soal tubuhnya yang tambun, chef kelahiran Bandung ini ternyata punya cerita menarik.

"Tahun 1994-1995 saat bekerja di Banyan Tree Resort di pulau Bintan, saya berada di tempat yang tertutup dan hanya untuk orang-orang yang ingin beristirahat. Nggak ada tempat hiburan dan kegiatan lain kecuali makan. Celakanya saya makan saat malam karena sudah istirahat. Jadilah badan saya melar," tutur pak Deden sambil tergelak.


Kesuksesan yang diraihnya bukan tanpa perjuangan. Dilahirkan dari keluarga dengan 6 saudara iapun harus terlibat dalam kegiatan sang ibu mengelola catering. "Karena saudara-saudara lain tak ada yang minat maka sayapun tiap hari membantu ibu di dapur," cerita chef yang berhobi nonton film kartun ini. Kegiatan tersebut justru membuatnya paham benar dengan urusan masak-memasak dan segala seluk-beluknya.

Karena itulah untuk pendidikan ia memilih program belajar yang singkat dan cepat bisa bekerja. "Pokoknya saat itu yang saya pikirkan hanya sekolah yang cepat bisa cari kerja dan saya ingin cepat mandiri," demikian tuturnya.

Saat kerja praktek dalam studinya di NHI Bandung, chef yang suka menngoleksi buku masak ini langsung bekerja di kapal pesiar dari Oslo dan berlabuh di kepulauan Seribu. "Saat itulah saya tertarik dengan tampilan seragam chef di kapal yang memakai baju dan topi putih, gagah benar! Saya langsung memutuskan untuk berkarier sebagai chef," jelasnya sambil tersenyum.

Pengalaman kerjanya makin bertambah saat berkarir di Jakarta, Bandung, Pulau Bintan, Pekanbaru, dan Singapura. Dalam meniti karir, chef yang suka makan saat menonton film ini puntak pernah membuang waktu. "Kalau harusnya kerja 1 shift, saya justru 2 shift. Saya ingin cepat belajar mengenal bagian lain di hotel secara lengkap. Dari bagian banquette, cold dish sampai butchery," ceritanya mengenang saat awal karirnya.

Yang menarik dalam masa pelatihan pernah ia memutuskan untuk menggali makanan tradisional dengan terjun langsung ke dapur restoran Sari Bundo. "Di situ saya belajar menyiapkan bahan, meracik bumbu hingga menyajikan masakan Padang dengan cara padang asli sehingga tahu benar sebluk-beluk dapur tradisional," tutur chef yang sejak duduk di bangku SMU suka makan tahu.

Dengn karir yang makinmantap chef Deden masih menyimpan rencana masa depan yang sedang dirintisnya. "Impian saya sederhana. Ingin punya warung kecil yang mobile dan bisa memperkerjakan banyak orang. Jualannya tak macam-macam, nasi rames dan jajanan yang harganya terjangkau sehingga semua orang bisa membeli," demikian angan-angannya.

Ayah seorang anak ini beristri seorang mantan Pastry Chef. Meskipun demikian di rumah ia masih sering memasak untuk istri dan anak semata wayangnya. "Istri saya bisa memasak, kadang-kadang memasak juga tetapi kayaknya kurang pede," ceritanya sambil tersenyum.

Chef yang tak pernah berhenti belajar inipun memiliki prinsip dalam setiap kegiatannya. "Jangan merasa sudah tahu dan paling tahu jika ingin terus maju dan belajar," demikian pesannya. Karena itulah keahliannya mengolah makanan tradisional terasah bersamaan dengan kemampuannya sebagai chef professional yang menguasai segala jenis makanan.

Khusus menyambut Lebaran, Chef yang gemar menyantap makanan Sunda, Thailand dan Bali ini membagikan resep andalannya. "Pokoknya ini resep gampang, tidak bikin gemuk karena opor ini tidak berminyak dan dijamin enak," jelasnya diiringi deraian tawanya.

»»  Baca Selanjutnya...
• As a President of Indonesian Chef Association (ICA), 2008 – 2012. One of the Indonesian reputable Chef Association, with more than 17 provinces of coverage in Indonesia and 11 overseas Representative (Maldives, Australia, Nigeria, Malta, Qatar, UEA,USA, Singapore, Macau, New Zealand, and Dubai). On Daily operational, ICA officially under direct contact with Ministry of Culture and Tourism, Indonesia.
• Elected as a Vice President of ICA (Indonesian Chef Association) 2007 – 2012, During the first Indonesian Chef Summit Meeting held in Bandung ( West Java ) on January 24 – 26, 2007, covering East part of Indonesia area incl. Bali, Lombok, NTT, East of Java, Sulawesi, Lombok, Maluku, Papua etc.
• Vice President of BCP, Bali Culinary Professional, Chef Association in Bali with more than 150 member of chef, for period of 2002 up to 2005.
• Elected as President of “IJUMPI” – Bali, which now officially merged
under name of “ICA – Indonesian Chef Association, for period
of 2003 – 2007
• Elected as “2000 Manager of the Year – Bali Dynasty Resort” for demonstrating exemplary Manager Assignment.
• Rewarded as “Indonesian Chef of the Year 2002” by Unilever Indonesia in Jakarta on October 17, 2002. The cooking competition was attended by Professional Chefs from 27 provinces of Indonesia.
• Rewarded as “Indonesia Chef of the Year 2003” during Jakarta Final Cooking competition which held by Cipta Kreasi Sedap Sekejab – ABC.
• During my assignment as Executive Chef at The Patra Bali Resort & Spa In October 2003 – Chef for working luncheon for the President of the United Stated of America (USA), Mr. George W. Bush. This event was hosted by The President of the Republic of Indonesia, Ibu Megawati Soekarno Putri.
• In May 15, 2004 – Chef for Working Luncheon in Honors of The President of The Democratic Republic of Timor Leste, H.E. Mr. Kay Rala Xanana Gusmao, hosted by The President of The Republic of Indonesian, Ibu Megawati Soekarno Putri.
• As an Assessor Team on the Tri Hita Karana Tourism Awards & Accreditations for the Balinese Food Festival 2008 at Bali Arts centre, Denpasar Bali, 4 Dec.2008
• Head chairman for the fourth Dewata Bali Culinary Competition, with 250 Chef Participant from 30 hotels, 1 catering, 2 restaurants and 2 tourism hotel school in Bali, held on August 2007.
• Honorary Judges for Jakarta Food Hotel Tourism – Salon Culinary in Jakarta, February 2007
• Honorary Judges for Gardenia Food & Garden Fair 2006 in Gardenia Country Inn – Kakaskasen II Tomohon, Manado 12 – 14 May 2006.
• Head chairman for the fourth Dewata Bali Culinary Competition, with 228 Chef Participant from 22 hotels, 1 catering, 2 restaurants and 2 tourism hotel school in Bali, held on August 2006.
• Represent Bali to compete for the Indonesian Regional Final of MLA Black Box Culinary Competition, in Jakarta. April 5, 2005.
• Become head chairman 2005 Dewata Culinary Competition with 140 Chef Participant from hotel, restaurant, and catering and hotel school.
• Has appreciation from Bali TV, for professional judging Fruit & Vegetables Carving Competition, 21 Juni 2004
• Has appreciation from PT Pamerindo Buana Abadi, Indonesia International Specialized Excebition, for professional excellence in committee organizing Bali Salon Culinary Challenge,5 – 7 February 2004
• Become head chairman for the 1st Dewata Culinary Competition, with 118 Chef from hotel, catering and tourism hotel school, held in Bali on November 29, 2003.
• Has appreciation from Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, for become a Judge on June 22, 2003 during Pesta Kesenian Bali.
• First winner in Bali during competition was held by Royco, Unilever Indonesia and become Chef of The Month on July 2002.
• Has appreciation from PT Pamerindo Buana Abadi, Indonesia International Specialized Excebition, for professional excellence in committee organizing Bali Salon Culinary Challenge, January 31st – February 2nd 2002.
• Honored second winner during the Balinese Food Competition at Garuda Wisnu Kencana Nusa Dua on September 27, 2000, held by Dinas Pariwisata Provinsi Bali.
• Winning the Silver Medal for the Nasi Tumpeng during the resent Salon Culinaire Jakarta’ 99.
• Winning Bronze medal for the Fruit & Vegetables Carving during the recent Salon Culinaire Challenge, Jakarta October 15, 1995.

»»  Baca Selanjutnya...
Berpengalaman dalam bidang masakan fusion ...
suka mengajar kelas memasak
hobi berkreasi dalam bidang makanan dan minuman
bermula dari melihat ibu yang selalu memasak tiap hari dengan menu yang sangat bervariasi , saya sering ikut memotong dan meracik bumbu bumbu maka bakat memasak mulai terlihat saat duduk di bangku SMU saya mulai sering bereksperimen dan sangat tertarik dengan dunia kuliner ini.
Selain belajar dari ibu, saya juga mempelajari dengan cara banyak membaca buku resep resep memasak dan melihat chef di acara televisi.
Setelah mantap dengan cita cita yang akan digapai, maka saya mulai konsentrasi dalam bidang kuliner dengan masuk ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Dengan usia yang sangat muda saya sangat agresif untuk mencari pengalaman dan ilmu kuliner lebih dan lebih lagi.
Sambil berjalannya kuliah, saya juga bekerja sampingan di beberapa catering dan mengajar memasak beberapa orang yang ingin belajar memasak untuk lebih menambah pengalaman saya sendiri.
Setelah lulus bekerja dalam bidang kelas memasak di perusahaan
peralatan dapur terkemuka di indonesia dan demonstrator beberapa alat memasak.

Best Regard,
Donny Hartanto
»»  Baca Selanjutnya...
Chef Online - Chef yang senang dengan tantangan baru ini meniti karirnya dengan tekun dari bawah. Kesuksesan justru memicunya untuk terus berkreasi dan mengembangkan diri. Juga dalam mewujudkan impian membawa makanan Indonesia 'go international'.

Chef Dean & Deluca Cafe Kuwait, Iman Khojali di tengah-tengah kesibukannya menysihkan waktu untuk berbincang dengan Chef Online. Chef berusia 29 tahun inilah yang bertanggungjawab untuk Dean & Deluca Cafe yang ada di Kuwait.
"Saya tak pernah bermimpi dan bercita-cita menjadi chef", demikian tutur sang chef yang berhobi touring ini mengawali kisahnya. Sejak usia belia ia sudah banyak terlibat membatu sang ibu menyiapkan hidangan buat keluarga. Hal ini membuatnya menguasai pembuatan masakan sederhana untuk keluarga.

"Saya nggak kepikiran masuk ke sekolah pariwisata, tapi dulu saya berpikir kalau hanya menjadi sarjana ekonomi saja toh banyak yang menjadi pengangguran. Maka itu saya langsung banting stir ke sekolah pariwisata dan mendaftar di LP3 Perhotelan Menteng jurusan
Food Production," cerita
Chef Iman Khojali .

Chef kelahiran Jakarta 25 Oktober ini selalu senang menimba ilmu, mencari pengalaman dan mencoba sesuatu yang baru. Hal ini terbukti semasa kuliah tak dihabiskannya begitu saja, chef yang senang matematika ini pun mengisi masa-masa kuliahnya dengan magang di Hotel Mega Anggrek & Central di Indonesia. Selama satu tahun magang di tempat tersebut membuatnya mengerti dunia kerja yang sebenarnya sebelum akhirnya benar-benar terjun ke dunia kuliner.

Tempaan dan pengalaman bekerja pada Chef Tysna di Mega Anggrek membuatnya makin mantap dalam menekuni karirnya. Namun hal itu tak berlangsung lama. "Suasana yang kurang begitu nyaman bikin saya nggak kerasan berada di
Menteng Group," kenangnya.

Beberapa penghargaan pernah diraihnya. Saat itu ia bekerja di
Dean & Deluca Cafe Kuwait. Kreasinya yang unik hampir selalu diciptakan pada saat-saat terakhir. "Saya tidak pernah merencanakan sesuatu, ide muncul begitu saja. Kadang apa yang sudah dipersiapkan langsung berubah pada saat perlombaan berlangsung," katanya sambil tersenyum.

Sifatnya yang spontan dan selalu mencari tantangan ini tak hanya saat menciptakan suatu kreasi makanan saja, bahkan dalam kehidupan sehari-haripun sering kali ia terapkan. Seperti halnya mengajak seluruh keluarga untuk touring keluar
kota tanpa persiapan terlebih dahulu menjadi hobinya di saat liburan.

Chef yang senang memanfaatkan waktu senggang untuk membaca selalu mencari inspirasi melalui buku-buku yang dibacanya. "Semua jenis makanan yang pernah saya cicipi mulai dari kaki
lima hinga resto saya coba kombinasikan dan disajikan ala hotel bintang lima," jelasnya. Menurutnya menciptakan sebuah kreasi makanan baru sama seperti membuat karya seni. Tak hanya rasa yang perlu diperhatikan tapi juga cara menyajikan. Itulah yang selalu ia bagi kepada timnya.

Keinginannya yang masih belum tercapai hingga saat ini adalah menjadi seorang General Manager. "Setiap orang hidup itu harus bermimpi, dan tidak berhenti sampai di mimpi saja tapi bagaimana usaha mendapatkannya itu yang penting," ujarnya penuh semangat.


Untuk pecinta
Chef Online chef Iman Khojali membagi resep yaitu 'Grilled Triple Lamb Cutlet With Onion Jam and Mushroom Sauce'. "Jangan takut bagi mereka yang memiliki masalah dengan kolesterol, karena daging ini bukanlah daging kambing melainkan daging domba yang lebih aman untuk penderita kolesterol. Selain enak, cara membuatnya pun cukup mudah jika ingin mempraktekkannya di rumah," ujar chef yang senang mengkoleksi bulu onta ini.

»»  Baca Selanjutnya...
Chef Online - Chef yang masih single ini mengaku cinta mati pada dunia pastry. Tak heran jika hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk terus belajar dan menuangkan ide-ide kreatif. Baginya pastry bagaikan sebuah karya seni yang tinggi. Membuat boutique pastry adalah salah satu obsesinya yang belum terwujud!

Kesan pendiam sekilas tampak di wajah sang pastry chef Hotel Sari Pan Pacific ini. Namun hal itu pun perlahan memudar saat menyambut kedatangan Chef Online dengan senyum ramahnya. Ya, inilah salah satu pria yang berperan dalam kesuksesan dapur pastry Hotel Sari Pan Pacific yang terkenal akan black forest yang melegenda selama puluhan tahun.

Chef Alex Fatrisman (35) yang akrab disapa Chef Alex ini seolah menjalani takdir kehidupan yang telah digariskan. Selulusnya dari SMA, chef kelahiran Bintan sebuah pulau yang terkenal akan keindahan pantainya ini langsung menimba ilmu di BPLP Solo.Dengan berbekal ijazah pariwisata dan perhotelan, ia pun melamar di salah satu hotel di tanah kelahirannya yaitu Bintan Lagoon Resort.

"Untuk terjun ke dunia pastry awalnya semua atas unsur ketidaksengajaan. Waktu saya melamar di Bintan Lagoon posisi yang tersedia hanya di bagian kitchen . Nah, dari sanalah saya berangkat menekuni dunia masak-memasak dan pastry," terangnya sambil tersenyum, saat ditanya alasannya memilih terjun ke dunia dapur.

Ternyata dunia pastry membuatnya terpikat, ia pun mengasah potensi dan menggali ilmu di Bintan Lagon Resort selama 7 tahun, sebelum akhirnya hijrah ke Jumeirah Beach Hotel, Dubai. "Di Dubai saya tidak lama hanya 1 tahun saja sampai kemudian pindah ke Sari Pan Pacific hingga saat ini," imbuh chef Alex yang juga aktif sebagai Public Relations di Jakarta Professional Pastry Club.

Lingkungan dan suasana kerja yang nyaman dan kekeluargaan membuat chef ganteng yang masih single ini pun betah. Buktinya hingga kini ia telah berkiprah selama hampir 14 tahun di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta ."Disini saya diberikan kebebasan untuk melakukan kreasi dan team worknya juga kompak. Belum lagi suasananya bekerjanya juga enak," tuturnya serius.

Saat ditanya apa arti pastry baginya? "Bagi saya membuat pastry itu bagaikan menciptakan sebuah karya seni yang tinggi. Cake atau roti bagi saya tak hanya sekedar rasanya yang enak. Melainkan juga bentuknya juga harus enak dilihat dan details itu penting, sehingga pastry merupakan gabungan rasa dan seni yang lahir dari hati."

Tak hanya terpikat pada cake dan roti luar negeri saja. Chef Alex yang hobi karoke dan minum kopi ini pun mengaku sangat menyukai kue-kue tradisional. Kecintaannya akan makanan Indonesia membuatnya terus berkreasi dengan menciptakan kreasi gabungan lokal dan luar.

Jika ditanya soal cita-cita, chef Alex berujar ada dua cita-cita yang ingin diraihnya. "Pertama tentunya saya ingin lebih meningkatkan pamor pastry di Hotel Sari Pan Pacific ini agar lebih dikenal dan diakui. Kedua untuk obsesi pribadi saya ingin suatu hari nanti membuat Boutique Pastry di Indonesia. Sehingga mengangkat pastry Indonesia ke tempat yang lebih tinggi dan lebih dihargai orang banyak," ucapnya sambil menyeruput segelas es kopi.

Tak heran demi mengejar cita-citanya yang belum terwjud, chef Alex tak pernah berhenti belajar dan mencari ide lewat media internet, membaca, dan diskusi lewat Pastry Club. Sebelum menutup pembiacaraan chef Alex pun berbagi tips buat mereka yang ingin terjun ke dunia pastry, "Pastikan bahwa pastry adalah bidang yang Anda ingin geluti. Kesabaran adalah salah kunci penting dalam menggeluti dunia pastry, karena bidang pastry cukup membutuhkan nilai seni yang tinggi untuk mencapai sebuah kreatifitas yang maksimal."

Buat para pencinta Chef Online, chef Alex ingin berbagi resep yaitu Sticky Rice Cake alias Cake Bolu Ketan Hitam . "Resep ini seperti terbuat dari cokelat namun sebenarnya dari ketan hitam. Di Indonesian Salon Culinary 2009, cake ini berhasil menyabet silver mendali untuk kategori 'Dress The Cake'. Rasanya enak dan mudah dibuat silahkan dicoba di rumah," pesan chef Alex yang memfavoritkan ayam bakar dan gulai kepala ikan asam pedas ini menutup pembicaraan.
»»  Baca Selanjutnya...