Tampilkan postingan dengan label Management Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Management Leadership. Tampilkan semua postingan
(Chef Online) Setiap orang dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, karena dari pengamatan beberapa ahli ternyata seorang pemimpin yang baik dan sukses bukan dilahirkan tetapi dikembangkan ketrampilannya dan kemampuannya untuk menjadi pemimpin yang baik.
Kualitas ini dapat dikembangkan atau mungkin secara alami bagian dari kepribadian mereka. Mari kita menjelajahi mereka lebih lanjut:


Tujuh kualitas pribadi ditemukan dalam seorang pemimpin yang baik:

1. Seorang pemimpin yang baik memiliki karakter teladan. Adalah penting bahwa pemimpin adalah dapat dipercaya untuk memimpin orang lain. Seorang pemimpin harus terpercaya dan dikenal untuk menjalani hidup mereka dengan jujur ​​dan integritas. Seorang pemimpin yang baik "berjalan pembicaraan" dan dengan berbuat demikian mendapatkan hak untuk memiliki tanggung jawab untuk orang lain. Otoritas yang sejati lahir dari rasa hormat terhadap karakter yang baik dan kepercayaan dari orang yang memimpin.

2. Seorang pemimpin yang baik sangat antusias tentang pekerjaan mereka. Orang akan merespon lebih terbuka kepada orang yg bergairah dan berdedikasi. Pemimpin harus mampu menjadi sumber inspirasi, dan menjadi motivator terhadap tindakan yang dibutuhkan atau penyebab. Meskipun tanggung jawab dan peran seorang pemimpin mungkin berbeda, pemimpin perlu dilihat untuk menjadi bagian dari tim bekerja menuju tujuan. Jenis pemimpin tidak akan takut untuk menyingsingkan lengan baju mereka dan menjadi kotor.

3. Seorang pemimpin yang baik adalah percaya diri. Untuk memimpin dan menentukan arah seorang pemimpin perlu tampil percaya diri sebagai pribadi dan dalam peran kepemimpinan. Orang seperti itu membangkitkan rasa percaya pada orang lain dan menarik keluar upaya kepercayaan dan terbaik dari tim untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Seorang pemimpin yang menyampaikan keyakinan terhadap tujuan yang ingin dicapai mengilhami upaya terbaik dari anggota tim.

4. Seorang pemimpin juga perlu berfungsi secara tertib dan terarah dalam situasi ketidakpastian. Orang memandang pemimpin selama masa ketidakpastian dan ketidaktahuan dan mencari kepastian dan keamanan ketika pemimpin menggambarkan keyakinan dan sikap positif.

5. Para pemimpin yang baik adalah toleran terhadap ambiguitas dan tetap tenang, berdiri dan tabah dengan tujuan utama. Badai, emosi, dan krisis datang dan pergi dan pemimpin yang baik membutuhkan ini sebagai bagian dari perjalanan dan tetap kepala dingin.

6. Seorang pemimpin yang baik serta menjaga tujuan utama dalam fokus mampu berpikir analitis. Tidak hanya pemimpin yang baik melihat situasi secara keseluruhan, tetapi mampu memecahnya menjadi bagian-bagian sub untuk pemeriksaan lebih dekat. Tidak hanya tujuan dalam tampilan tapi seorang pemimpin yang baik dapat memecahnya menjadi langkah dikelola dan membuat kemajuan ke arah itu.

7. Seorang pemimpin yang baik berkomitmen untuk keunggulan. Terbaik kedua tidak membawa kesuksesan. Pemimpin yang baik tidak hanya memelihara standar tinggi, tetapi juga secara proaktif meningkatkan standarnya untuk mencapai keunggulan dalam semua bidang.

Ketujuh karakteristik pribadi adalah dasar bagi kepemimpinan yang baik. Beberapa karakteristik mungkin lebih alami ada dalam kepribadian seorang pemimpin. Namun, setiap karakteristik ini juga dapat dikembangkan dan diperkuat. Seorang pemimpin yang baik apakah mereka alami memiliki kualitas ini atau tidak, akan rajin untuk secara konsisten mengembangkan dan memperkuat mereka dalam peran kepemimpinan mereka.
»»  Baca Selanjutnya...
Seorang pemimpin dikatakan cerdas dan baik apabila dia dapat menerima akan sebuah kritikan atau masukan dari anak buahnya atau karyawannya. Mungkin kritikan atau masukan itu dapat membuat telinga yang mendengarnya menjadi ‘memerah’ dan akan menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan. Atau mungkin juga membuat emosi dan rasa kemarahan yang ingin sepertinya langsung ditumpahkan kepada orang yang memberikan kritikan atau masukan tersebut dengan mempersiapkan akan argument atau alasan pembelaan diri yang benar. Sebenarnya kejadian itu tidak perlu terjadi. Mengapa ? karena tergantung dari sudut dan pandangan mana seorang pemimpin itu dapat melihat dan menyikapi akan hal itu.


Bila seorang pemimpin sulit bahkan takut untuk menerima masukan atau kritikan yang datang kepada nya, maka dapat kita katakan bahwa pemimpin itu memiliki jiwa kepemimpinan yang kecil atau kanak-kanak. Dan justru  bila pemimpin itu takut untuk menerima kritikan atau masukan, maka itu berarti ia memperlihatkan akan kelemahannya sebagai seorang pemimpin. Bila kita melihat seorang anak-anak yang berbuat salah dan tidak menerima akan nasehat orang lain dengan cara membela atau mempertahankan akan dirinya, maka kita sebagai orang yang dewasa akan tersenyum dan menggelengkan kepala. Mengapa ?karena dia hanyalah seorang anak-anak dan kita dapat memakluminya. Tetapi bila dia adalah seorang yang sudah dewasa bahkan ada pada posisi seorang pemimpin , maka kita tidak akan bersikap memakluminya, tetapi semakin melihat akan sisi buruk sifat kepemimpinannya yang kekanak-kanakan dan kelemahannya sebagai seorang pemimpin.

Seorang Pemimpin yang cerdas , ketika sebuah kritikan atau masukan datang kepadanya maka dengan pemikiran dan hati yang terbuka akan menerima itu semua dan berpandangan bahwa kritikan atau masukan itu merupakan suatu batu loncatan untuk dia melangkah lagi lebih maju menjadi pemimpin yang lebih baik lagi dan akan meningkatkan akan perkembangan kemajuan karirnya sebagai seorang pemimpin.  Maksudnya disini adalah pemimpin ini dapat memandang bahwa kritikan atau masukan yang datang padanya adalah merupakan suatu kesempatan baginya untuk menjadi yang lebih lagi untuk mengembangkan akan kepemimpinannya dari posisi yang ada sekarangh di,mana dia sedang menjalaninya.  

Maka dapat di simpulkan disini bahwa seorang pemimpin yang smart atau cerdas adalah seorang pemimpin yang dapat menerima suatu kritikan atau masukan yang datang padanya sebagai suatu batu loncatan untuk dia dapat berkembang kearah yang lebih baik lagi sebagai seorang pemimpin didalam karir kepemimpinannya.
»»  Baca Selanjutnya...
(Chef Krendo) Didalam setiap organisasi pastilah  seorang pemimpin  ingin organisasi yang dipimpinnya berhasil, dan berkembang. Kunci keberhasilan seorang pemimpin bukanlah ketrampilan manajemen dasar, tetapi leadership skill itu sendiri.  Karena begitu banyak konsep yang keliru tentang orang – orang yang berhasil dimana bahwa mereka dapat mencapai apa yang mereka capai karena mereka tidak mempunyai masalah. Tetapi itu tidak benar sama sekali.

Beberapa hal yang harus diperhatikan didalam Memimpin sebuah organisasi :

Dibangun Dalam Kepercayaan/keyakinan

Tugas dasar seorang pemimpin adalah untuk memahami dan menangani situasi para karyawannya. Jadi, dengan memotivasi dan mendorong mereka untuk bekerja lebih keras, pemimpin berhasil menciptakan kepercayaan pada mereka untuk mencapai pekerjaan organisasi secara efektif dan efisien. Sering kali, kita melihat pemimpin hanya menyediakan dukungan psikologis kepada para karyawannya melalui perilaku mereka dan ekspresi dan gagal untuk mengenali kualitas dan kemampuan masing-masing bawahannya. Namun, pemimpin yang efektif diperlukan untuk mengidentifikasi kemampuan karyawan serta mendukung mereka dengan semua cara yang memungkinkan.

Produktivitas

Inti dari suatu organisasi adalah dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan non-manusia yang tersedia untuk menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif. Ini hanya dapat dicapai dengan mengalikan kemampuan dengan kemauan. Dalam hal ini peran seorang pemimpin adalah meningkatkan produktivitas karyawan dengan menaikkan kemauan untuk bekerja keras dan berkontribusi secara efisiensi.

Kepuasan Kerja

Menyediakan insentif dan kondisi kerja yang lebih baik meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Namun, ini kepuasan kerja sangat tergantung pada perilaku pemimpin terhadap karyawan mereka. Seorang pemimpin yang bossy mungkin bisa mendapatkan hasil pekerjaan seperti yang diinginkan atas diri para karyawannya awal, tapi dengan berjalannya waktu, akan gagal untuk mendapatkan hasil yang diharapkan serta akan menghasilkan produktivitas rendah. Di sisi lain, seorang pemimpin dengan kepedulian serta pemahaman terhadap keadaan bawahannya mungkin akan menghadapi beberapa hambatan pada awalnya, tetapi dalam jangka panjang, dia akan jauh lebih sukses. Jadi, pemimpin harus memastikan bahwa mereka mengungkapkan perilaku yang dapat diterima oleh bawahan.

Kerja kelompok

Seorang pemimpin memastikan bahwa karyawan melaksanakan pekerjaan masing-masing dengan baik dan saling percaya untuk kemajuan organisasi. Dia mendorong mereka untuk bekerja dengan cara yang ramah dan dengan kerjasama satu sama lain, menekankan pada pencapaian tujuan perusahaan/organisasi. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang berhasil menempatkan kepentingan kelompok pada urutan pertama pertama kemudian baru prestasi pribadi. Setelah semua ini dilakukan secara efektif, tidak hanya keuntungan organisasi, tetapi karyawan mendapatkan keuntungan juga. 

Kegiatan yang Terorganisir

Sering kali, lingkungan organisasi diisi dengan kekacauan dan bentrokan terutama karena tidak adanya seorang manajer atau pemimpin. Jadi, seorang pemimpin memastikan bahwa kegiatan organisasi didelegasikan secara merata dan adil antara karyawan, sehingga mengurangi kemungkinan konflik di antara mereka. 

Semangat Karyawan

Kepemimpinan yang efektif sangat penting untuk mendapatkan semangat kerja karyawan yang tinggi. Seorang pemimpin yang baik memberikan hak untuk masing-masing kelompok di bawahnya dalam hal pemikiran dan sikap, sehingga mengembangkan hubungan manusia yang lebih baik. Selanjutnya, interaksi yang sangat baik yang difasilitasi antara anggota-anggota kelompok dengan menjaga disiplin dan kontrol pada bawahan.

Koordinasi

Seorang pemimpin melakukan peran mengintegrasikan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Hal ini, pada gilirannya, mengikat kesamaan dari kedua kepentingan. Dengan menjaga informasi tentang kerja setiap karyawan, pemimpin menyimpan informasi yang diperlukan dari seluruh kelompok, untuk mengambil sebuah keputusan umum dalam rangka mengkoordinasi upaya secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang sukses haruslah seorang yang kuat jasmani dan rohani. Karena hari-hari yang dilalui tidaklah mudah, akan banyak rintangan , masalah dan kritikan orang lain tapi satu hal yang harus kita sadari janganlah izinkan kritik orang lain mematahkan semangat anda untuk maju sebagai orang pemimpin.Jadi seorang pemimpin yang berhasil bukan hanya mereka yang dapat mengatasi rintangan, tetapi mereka yang terus menghadapi maslaah. Kabar buruknya adalah bahwa semakin tinggi seseorang naik secara pribadi dan professional semakin rumit masalah yang dihadapinya. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita terus bertumbuh dan mengembangkan diri sendiri, maka kemampuan  kita untuk menghadapi setiap masalah –masalah yang ada pun meningkat.

Sukses itu adalah pilihan dan ada ditangan Anda, jadi apapun yang terjadi didalam kehidupan kita sebagai pemimpin janganlah mudah menyerah, tapi maju terus dan terus kembangkan potensi yang ada dalam diri Anda.

Anda pasti BISA.



(Chef Krendo)
»»  Baca Selanjutnya...
Suatu Perusahaan pastinya memiliki karyawan yang bekerja di berbagai bagian, dan masing-masing bagian memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Akan sangat penting bagi setiap bagian untuk mempertahankan karyawannya untuk dapat bekerja secara maksimal. Ini sangat penting karena setiap karyawan adalah aset dari suatu perusahaan yang akan memajukan Perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu membangun loyalitas karyawan adalah suatu keharusan dari perusahaan. Ini tentunya di mulai dari setiap bagian / Departemen dimana karyawan itu berada karena di bagian / Departemen itu lah karyawan bekerja dan bekarya.

Ada beberapa kiat agar seorang karyawan dapat bertumbuh menjadi karyawan yang loyal. Diantaranya :
1. Kepercayaan dan integritas : seorang karyawan yang loyal adalah seorang yang dapat dipercaya. Atasan dapat menjadi contoh yang baik untuk karyawannya agar dapat melakukan setiap pekerjaan yang diberikan dengan baik. Dan tentunya seorang atasan harus memiliki komunikasi yang baik diantara karyawannya.

2. Adakan Rotasi / Mutasi karyawan : setiap karyawan yang sudah bertahun tahun bekerja dengan pekerjaan yang sama pastinya akan mengalami kebosanan. Dan tidak sedikit yang mencoba mencari pengalaman lain di luar perusahaan sehingga banyak dari mereka yang mengundurkan diri untuk mendapatkan tantangan baru. Karena nya sangat baik jikalau seorang atasan dapat mengetahui kapan karyawannya dapat di promote atau di rotasi pekerjaannya. Memberikan kepercayaan yang lebih terkadang membuat seorang karyawan lebih semangat untuk bekerja.

3. Informasi tentang perkembangan Perusahaan kepada karyawan : seorang karyawan akan menjadi lebih memahami dimana mereka bekerja. Kondisi perusahaan yang maju akan menjadikan mereka lebih menyadari bahwa mereka pun ambil bagian di dalamnya. Sehingga kedepannya mereka lebih semangat lagi dalam mencapai visi dan misi perusahaan. Sedangkan untuk kondisi perusahaan yang kurang juga harus disampaikan sehingga karyawan juga dapat merasakan sesuatu untuk sama-sama berjuang agar perusahaan dapat bangkit kembali. Oleh karena itu Informasi baik melalui email internal maupun papan pengumuman dapat di update selalu.

4. Pertumbuhan Peluang Karier : Peluang promosi mungkin terbatas, namun memberikan kesempatan seorang karyawan untuk lebih bertanggung jawab dan lebih mengasah keterampilannya sangat dihargai oleh karyawan itu sendiri.

5. Kebanggaan terhadap Perusahaan : untuk membangun loyalitas seorang karyawan juga di perlukan rasa bangga terhadap perusahaan itu sendiri. Ketika kebanggaan itu ada maka apapun yang terjadi atas perusahaan itu maka seorang karyawan akan tetap memperjuangkan perusahaannya.

6. Rekan Kerja : banyak karyawan yang bertahan dan loyal karena faktor yang satu ini. Mungkin mereka tidak menerima gaji yang besar namun karena Rekan kerja dan lingkungan yang positif mereka bertahan terus dalam perusahaan tersebut.

7. Pengembangan karyawan : Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang terus meningkatkan kualitas karyawannya terutama dalam hal pengembangan diri karyawan dalam bidang pekerjaannya. Karena itu sangat baik jikalau perusahaan terus mengadakan pelatihan atau training baik secara internal maupun ekternal training.

8. Hubungan dengan atasan : Hubungan dengan atasan memang sangat penting untuk dibangun. Atasan yang kurang memahami kepemimpinan dapat membuat karyawan tersebut tidak dapat bertahan. Namun jikalau seorang pemimpin mampu memahami karyawannya pastilah karyawan lebih loyal untuk bekerja lebih baik lagi.

Semuanya kembali lagi kepada komitmen bersama baik dari sisi Perusahaan maupun dari sisi Karyawan.
»»  Baca Selanjutnya...
Sebagai seorang atasan atau Manager ini saatnya anda mengetahui apakah anda adalah atasan yang dicintai bawahan atau ditakuti. Apakah kehadiran anda di kantor dibutuhkan atau bawahan anda berharap anda jangan masuk hari itu. Inilah saatnya anda untuk bercermin.

Mulailah memperhatikan ucapan anda kepada bawahan anda, apakah anda juga adalah orang yang mempertanggungjawabkan perkataan anda kepada bawahan atau orang lain, atau anda seorang yang suka berdalih atas statment yang pernah anda keluarkan sendiri. Jika anda melihat bawahan anda kurang respek pada anda, atau instruksi anda seringkali diabaikan, instropeksi diri anda bisa saja itu bukan seluruhnya kesalahan bawahan anda. Bisa jadi anda sering menimbulkan ketidaknyamanan bawahan anda. Misalnya saja anda mengharapkan bawahan anda kreatif seharusnya yang dilakukan adalah menggali potensi yang ada padanya daripada memaki atas kekurang inisiatifannya sehingga membuat bawahan itu menjadi frustasi. Jagalah perasaan bawahan anda sehingga mereka tetap memiliki antusias untuk bekerja. Jika anda berharap bawahan anda mampu mengemukakan ide-idenya berikan penghargaan ketika ia memberikan ide sekalipun kurang tepat daripada anda mencela ide yang disampaikannya. Bagaimana mau kreatif jika salah memberikan pendapat langsung dicela. Berikan reward bagi ide yang mampu meningkatkan penjualan.

Kepemimpinan merupakan unsur yang penting di dalam sebuah perusahaan. Setiap pemimpin pasti memiliki gayanya masing-masing tetapi terlepas dari itu perhatikan kepentingan bawahan anda. Setiap karyawan berbeda sehingga berbeda juga cara penanganannya, karyawan wanita bisa jadi tidak dapat ditegur dengan keras seperti karyawan pria. Atau berbeda juga cara menangani karyawan yang usianya telah paruh baya bahkan mungkin sudah lebih tua dari anda. Pastinya ketika menegur karyawan lebih tua harus ada sopan santun dalam bertata bahasa sehingga bawahan anda tidak sakit hati dan merasa diperlakukan sewenang-wenang.

Menjadi atasan bukan hanya mengharapkan tugas yang diberikan kepada karyawan dapat selesai dengan benar dan tepat waktu tetapi perhatikan hubungan kerjasama yang baik sehingga dapat meningkatkan gairah kerja. Penyelesaian tugas bukan segala-galanya, sehingga supaya tugas selesai anda menjadi pengawas bagi bawahan anda bahkan telah siap dengan segala hukuman jika terjadi pelanggaran, selalu under estimate terhadap bawahan, bahwa mereka malas atau bersantai-santai dalam bekerja.

Kenalilah bawahan anda dan berikan support dan motivasi sehingga mereka merasa dihargai dan bekerja keras dengan sukarela maka dapatkanlah "cinta" dari mereka. Prestasi anda tidak luput dari andil bawahan anda, tanpa mereka anda bukan apa-apa.
»»  Baca Selanjutnya...
Sebuah penjualan akan berhasil di lapangan apabila terdapat komponen2 yang mendukung akan keberhasilan penjualan. Didalam strategi pemasaran kita mengenal komponen 5 P dimana komponen yang pertama kali adalah PEOPLE . Mengapa PEOPLE ? Karena tanpa people/karyawan yang mendukung maka dikatakan suatu penjualan tidak dapat berhasil dengan baik. Sekalipun adanya promosi dan iklan yang bagus serta harga yang bersaing tetapi tanpa people yang mendukung maka akan gagal strategi marketing yang sebagus apapun dipasaran. Jadi boleh dikatakan bahwa peole memegang peranan yang cukup penting juga dalam strategi pemasaran.

Didalam satu proses baik itu penjualan atau apapun juga maka haruslah ada satu orang pemimpin yang akan memimpin team untuk bekerja dengan baik. Tanpa adanya pemimipin maka niscaya tidak akan berjalan dengan baik. Mengapa perlu pemimpin ?

Fungsi pemimpin adalah agar dapat mengarahkan timnya dengan baik, agar dapat mengatur strategi yang jelas, dapat menyusun planning , dapat memonitoring dengan baik pelaksanaan kerja dilapangan .

Itulah sebabnya diperlukan seorang pemimpin yang efektif agar suatu proses pemasaran dapat berjalan dengan baik dan dengan demikian penjualan juga dapat berhasil di lapangan.

Adapun ciri-ciri dari seorang pemimpin yang efektif adalah sbb :

1. Team Leader yang efektif lebih fokus kepada tim dibandingkan dirinya
2. Team Leader yang efektif menciaptakan ruang dimana anggotanya dapat saling mempercayai satu dengan lainnya
3. Team Leader yang efektif fokus kepada kelebihan bukan kekurangan anggotanya
4. Team Leader yang efektif dapat memberi penghargaan kepada hasil kerja anakbuahnya.
5. Team Leader yang efektif menetapkan standard yang tinggi
6. Team Leader yang efektif berorientasi pada hasil dan memastikan fokus timnya ke hasil akhir
7. Team Leader yang efektif Menghilangkan kompetisi individu
8. Team Leader yang efektif mendelegasikan tanggung jawab secara jelas)
9. Team Leader yang efektif menentukan struktur kepemimpinan secara jelas
10. Team Leader yang efektif memberikan peluang pengembangan karir secara berkala
11. Team Leader yang efektif memberikan wewenang untuk mambuat dan menjalankan keputusan kepada tim
12. Team Leader yang efektif menyelesaikan konfik antar staf dengan secepatnya
13. Team Leader yang efektif menumbuh kembangkan pertimbangan ide ide baru
14. Team Leader yang efektif menumbuh kembangkan keterbukaan dan komunikasi yang jujur antara atasan dan bawahan dan mau menjadi pendengar yang baik
15. Team Leader yang efektif mengkomunikasikan visi dan kode etik secara jelas
»»  Baca Selanjutnya...
Setiap orang yang bekerja pasti memiliki persoalan tersendiri ketika berada di suatu lingkungan yang baru. Bagaimana bila itu adalah seorang pemimpin ? Tentu saja pasti mengalami tantangan yang sama bila berada di lingkungan yang baru. Pada dasarnya setiap orang yang bekerja di suatu lingkungan kerja yang baru pasti akan mengalami yang namanya tantangan. Sudah tentu setiap orang pasti menginginkan jalan-jalan yang mulus dan baik-baik saja selama dia bekerja di lingkungan yang baru ini.

Begitu juga dengan keberadaan seorang pemimpin. Masalah yang akan dihadapi oleh seorang pemimpin pertama kalinya adalah bagaimana caranya untuk dapat memulai suatu hubungan yang baik dengan karyawan/anak buahnya. Adanya suatu hubungan yang harmonis antara dia sebagai seorang pemimpin dengan anak buah/karyawannya adalah cita-cita sebagai seorang pemimpin. Tentu saja hal ini juga berhubungan dengan adanya kenyamanan di tengah lingkungan kerja yang merupakan syarat penting untuk di penuhi seorang pemimpin kepada anak buah/anggotanya. Tentu saja dalam si pemimpin tidak perlu menjadi gentar selama dia dapat mengatur sagala sesuatunya dengan baik.

Banyak diantara pemimpin menjadi gentar ketika menghadapi banyaknya tuntutan dari anak buah/anggotanya. Dan bila sudah demikian maka ada dua kemungkinan yang akan di lakukan oleh seorang pemimpin yaitu : yang pertama seorang pemimpin akan mulai mencari hal-hal yang mungkin dapat menjadi bahan acuan baginya untuk dapat menjadi seperti apa yang diinginkan oleh anak bua/karyawannya atau yang kedua malah sebaiknya menjadi seorang pemimpin yang tidak peduli bahkan cenderung menjadi diktator untuk menutupi akan kekurangannya.

Menurut Blaku dan Mouton, expert di bidang leadership berpendapat seorang pemimpin yang baik memiliki tanggung jawab untuk membina komunikasi yang baik dengan bawahannya. Sekalipun merupakan daerah/lingkungan yang baru, namun bukan merupakan alasan untuk membuat komunikasi tidak berjalan dengan baik. Sebagai seorang pemimpin harus siap menghadapi tantangan yang datang mungkin secara tidak terduga. Karena tidak mungkin menghindar atau lari dari tantangan yang sedang terjadi di depan mata. Justru ketika seorang pemimpin menghadapi suatu tantangan yang berat, maka disitulah akan terlihat akan ketangguhannya sebagai seorang pemimpin yang survive dan tidak mudah/cepat berputus asa.

Seorang teman saya mewawancara seorang pemimpin di suatu perusahaan di bilangan Tangerang. Pada awalnya ketika pemimpin ini ditempatkan di suatu tempat yang baru ada suatu kegentaran didalam dirinya. Karena dapat dikatakan perusahaan yang dia pimpin ini belumlah merupakan suatu perusahan yang baik, banyak kekurangan disana-sini. Dan juga adanya tuntutan dari owner atau pemilik dari perusahaan tempat dia bekerja sebagai seorang yang dipercaya untuk mengelola perusahaan untuk dipimpinnya supaya perusahaan yang dipimpinnya ini maju dan berkembang.

Ada satu hal yang dapat di share dalam tulisan saya ini dari hasil wawancara teman saya ini adalah : semangat dan optimisme yang dimiliki pemimpin ini bahwa pasti berhasil. Yang penting intinya adalah sebagai pemimpin, harus mau berubah dan menjadi flexibel. Karena tidak bisa seorang pemimpin menempatkan suatu kebijakan dalam kedudukan yang sama. Tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru menandakan seorang pemimpin itu senang terhadap perubahan. Yang kedua yang harus dilakukannya adalah tidak takut mengambil resiko dan tidak takut bila mengalami kegagalan atau bila melakukan kesalahan. Tetapi justru berani dan terus maju untuk memajukan akan perusahaan yang di pimpinnya.
»»  Baca Selanjutnya...
Merasa tersaingi oleh bawahan merupakan hal yang terkadang kita temui dalam sebuah unit kerja atau organisasi. Sebenarnya hal tersebut tidak lazim atau tidak sepantasnya terjadi. Seorang atasan atau pemimpin seharusnya menjadi sosok yang diharapkan mampu mengembangkan kemampuan tim nya, seorang yang punya kebesaran hati untuk memberikan sebagian waktunya untuk mengajar, melatih, memberikan motivasi untuk kemajuan anggota timnya.


Salah seorang sahabat saya berkeluh kesah karena merasa karier nya dihambat oleh atasannya sendiri yang merasa iri dan takut tersaingi. Sahabat saya ini memang seorang yang pintar, memiliki banyak ide kreatif, dan pandai menampilkan citra diri yang baik di hadapan para bos. Kalau kita berpikir jernih, sebagai seorang pemimpin atau supervisor, seharusnya hal itu membanggakan bagi atasannya bukan? Namun yang terjadi malah sebaliknya, sang atasan merasa tersaingi dan merasa iri. Biasanya jika kondisi seperti itu terjadi, maka mulailah terbentuk suasana kerja yang tidak sehat karena sang pemimpin seringkali merasa curiga, negative dan berlaku ‘tidak fair’. Sementara reaksi bawahan bisa malah makin menantang atau sebaliknya menjadi ‘patah’ dan memilih meninggalkan perusahaan dan pindah ke tempat lain.

Melalui tulisan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang atasan, agar perasaan ‘tersaingi’ tidak menyerang Anda :
1. Jadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan yang wajar. Dalam kondisi tingkat persaingan yang tinggi saat ini, setiap perusahaan yang menerapkan sistem kompetensi penuh akan memilih pegawai berdasarkan kompetensi dan bukan berdasarkan senioritas. Wajah baru, dengan tingkat pendidikan yang baik, pancaran energi yang fresh, antusias, energik dan mau bekerja keras tanpa mengeluh. Hal itu membuat mereka dikenal baik dan positif di lingkungan kerja. Sementara jika Anda adalah seorang atasan yang lebih ‘senior’, mungkin terkadang ada sedikit perasaan jenuh dan kreatifitas pun mulai berkurang, ide-ide mulai buntu. Namun jangan sampai seorang atasan menganggap anggota timnya sendiri sebagai saingan, karena akan membuat kesan yang semakin buruk dimata bos anda. Sebaliknya, jadikan itu sebagai tantangan yang memotivasi anda agar tetap aktif, semakin kreatif dan berinisiatif. Karena tanpa disadari energi positif yang dibawa oleh anggota tim anda akan mudah menular jika kita mau menerima mereka dengan sepenuh hati.

2. Sebagai seorang supervisor, anda juga harus mampu melihat kelebihan yang anda miliki, misalnya dalam hal leadership, management, net working, kebijaksanaan, kemampuan memberikan solusi, emosi yang lebih stabil, dll. Jadi tidak usah gusar melihat kelebihan anggota tim Anda. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Jangan menjadikan hal tersebut sebagai pertentangan. Justru mereka adalah asset yang anda miliki untuk mencapai target bisnis anda.

3. Bersikap tulus dan adil. Untuk memimpin tim kerja dibutuhkan kecakapan atau skill. Namun, tak cuma itu, sebagai atasan, Anda juga harus bisa bersikap tulus dan adil. Tulus membagi pekerjaan, tulus memimpin, juga adil dalam memaksimalkan keunggulan setiap karyawan yang tergabung dalam tim. Anda justru harus selalu siap membantu bawahan menemukan peluang untuk memperbaiki kekurangan mereka

4. Mau terus belajar. Meskipun posisi Anda sudah berada pada level manajemen, bukan berarti Anda lebih pintar, lebih berpengalaman, atau lebih jago ketimbang karyawan lain !! Meski sudah menjadi bos, Anda harus tetap mau belajar. Jangan pernah malu bertanya, meski kepada bawahan, jika ada sesuatu yang Anda belum pahami atau kuasai. Menggali ilmu itu tidak kenal umur dan posisi jabatan. Diakui atau tidak, cara ini akan membuat Anda dianggap telah ikut berkontribusi dalam kemajuan bawahan. Rentang jarak antara Anda dan bawahan tak perlu dijadikan batu penghalang untuk sama-sama maju. Menjadi pintar bersama tentu akan lebih menyenangkan, ketimbang pintar sendirian.

5. Seorang pemimpin atau atasan juga harus bisa mengatur dan mengendalikan emosi. Jangan mudah terpancing dan meledak-ledak. Mulailah belajar mengontrol amarah terhadap kinerja tim. Jangan pernah memarahi, memaki, dan menegur bawahan di depan umum. Cara ini secara tak langsung akan memengaruhi mental mereka. Kita harus membangun mental kerja yang positif. Kalaupun ada kesalahan, sebaiknya dilakukan ’coaching’ empat mata di tempat yang tertutup. Yang terpenting adalah mereka bisa memperbaiki diri.

6. Sebagai seorang atasan, anda harus menunjukkan wibawa, namun bukan berarti Anda tidak mau bergaul dengan bawahan anda sendiri. Tak sedikit atasan yang merasa gengsi bergabung dengan bawahannya atau memilih karyawan yang itu-itu saja untuk diajak berdiskusi atau makan siang bersama. Jika Anda bersahabat dengan semua karyawan di setiap level, maka Anda akan memiliki pengaruh yang positif dan Anda juga akan mendapatkan banyak wawasan dari persahabatan Anda dengan mereka. Jadi, tidak usah takut tersaingi, kita justru merangkul mereka.

7. Jangan pernah bekerja sendirian atau one man show. Kita gunakan semua kemampuan tim agar bersinergi untuk mencapai keberhasilan. Ingat, keberhasilan dan kesuksesan mereka merupakan kemenangan Anda. Apa jadinya bila Anda memiliki bawahan yang tidak cakap dan tidak berkembang? Anda sendiri yang akan repot bukan? Rayakan keberhasilan tim sebagai kemenangan Anda !!
»»  Baca Selanjutnya...

Chef Online - Sudah beberapa hari belakangan ini Bayu, yang menduduki posisi Direktur di perusahaannya, mengalami masalah keluarga yang cukup besar. Sehingga, hal ini mempengaruhi pekerjaannya di kantor. Bayu menjadi lebih temperamen, seringkali marah kepada bawahan akibat kesalahan yang sepele, bahkan marah tanpa alasan yang jelas. Sikap Bayu ini mengakibatkan suasana kerja menjadi tidak kondusif.

Cerita tersebut merupakan contoh seorang pemimpin yang kurang memiliki emotional intelligence. Emotional Intelligence ini merupakan salah satu aspek penting yang menentukan sukses tidaknya organisasi, karena menentukan bagaimana pemimpin berinteraksi dengan orang lain dalam organisasi.

Apa itu emotional intelligence?
Menurut John D. Mayer dan David Caruso dalam Ivey Business Journal, definisi EI dapat dijelaskan dari gabungan kedua kata tersebut. Emotions adalah perasaan yang memberikan sinyal informasi mengenai suatu hubungan, seperti bahagia, sedih, marah dan takut. Sementara itu, Intelligence adalah suatu kapasitas untuk melakukan penalaran abstrak.
Sehingga, definisi EI menjadi kapasitas untuk memahami dan menjelaskan emosi, dan disisi lain, juga memanfaatkan emosi dalam meningkatkan pemikiran.

Model-Model Emotional Intelligence
Banyak penelitian yang membahas mengenai EI, namun yang paling popular diantaranya ada dua, yakni yang dikembangkan David Goleman dan Mayer-Salovey, sebagai berikut:

Model EI yang diperkenalkan oleh David Goleman menekankan pada empat kompetensi penting dalam EI, diantaranya:
1. Self-awareness, yakni kemampuan dalam membaca emosi sendiri dan memahami dampaknya terhadap orang lain.
2. Self-management, yakni kemampuan untuk mengontrol emosi serta beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
3. Social awareness, yakni kemampuan dalam memahami emosi orang lain, dan bagaimana dampaknya terhadap organisasi.
4. Relationship management, kemampuan untuk menginspirasi, mempengaruhi, mengembangkan orang lain, serta juga mengatasi konflik.

Sementara itu, model Four-Branch yang diajukan oleh Mayer-Salovey mengemukakan bahwa terdapat empat aspek skill yang terkait dengan EI. Dua aspek pertama yakni Perception dan Facilitation, disebut juga dengan `experiential EI` karena mereka punya hubungan yang sangat dekat dengan perasaan. Perception merupakan kapasitas untuk memahami emosi orang lain secara akurat, sementara Facilitation adalah kemampuan untuk menggunakan emosi dalam meningkatkan pemikiran kita.

Sementara itu, aspek ketiga dan keempat dari EI skill disebut juga `strategic EI` karena keduanya terkait dengan mengkalkulasi serta merencanakan dengan informasi mengennai emosi. Aspek ketiga, Understanding Emotions, merupakan kemampuan memahami bagaimana emosi berubah, dan bagaimana emosi tersebut bisa mengbah perilaku. Sementara itu, aspek terakhir yakni Emotional Management merupakan kemampuan untuk menggabungkan logika dan emosi demi pengambilan keputusan yang efektif.

Keempat aspek ini terkait satu sama lain, namun mereka juga punya fungsi yang berbeda masing-masing.

Peran EI dalam Organisasi
Lalu seberapa penting peran EI dalam organisasi? EI penting sekali karena organisasi terdiri dari banyak orang dengan emosi yang berbeda-beda. Tanpa kemampuan EI yang baik, maka seorang pemimpin tidak akan dapat mengatasi konflik dengan efektif, serta tidak dapat memanfaatkan informasi secara optimal, terutama dalam pengambilan keputusan.

Tingkat EI yang tinggi, maka akan menghasilkan manfaat dalam beberapa aspek berikut ini:

• membuat orang lain nyaman terhadap kehadiran Anda
• tetap dalam kondisi kalem meskipun sedang mengalami masalah ataupun krisis
• membina hubungan baik dengan berbagai pihak di lingkungan kerja
• membantu mengatasi konflik yang muncul di lingkungan kerja
• memiliki empati terhadap perasaan orang lain
• mempengaruhi orang lain dengan taktik yang efektif
• mengatasi perubahan yang terjadi dalam lingkungan kerja

Selain manfaat tersebut, masih bisa disebut sejumlah manfaat lainnya. Intinya, EI sangat membawa banyak manfaat ke dalam organisasi, sehingga diharapkan tiap pemimpin memiliki EI yang tinggi.


»»  Baca Selanjutnya...

Chef Online - Di balik kesuksesan organisasi, terdapat peran penting seorang pemimpin. Pemimpin harus memperoleh trust atau kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya, dalam rangka mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Apa saja yang membentuk suatu trust dalam organisasi??

Menurut Stephen Robbins dalam bukunya Organizational Behavior, ada lima dimensi yang membentuk sebuah trust, antara lain:

• Integritas
Integritas mengacu pada kejujuran. Dari dimensi lainnya, integritas adalah yang paling penting dalam menentukan apakah seseorang dapat dipercaya atau tidak. Integritas seorang pemimpin ditentukan oleh bagaimana perilakunya dalam organisasi. Jika pemimpin mencontohkan perilaku yang tidak etis, bagaimana orang yang dipimpinnya bisa mempercayainya?

• Kompetensi
Kompetensi mengacu pada pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki individu. Seorang pemimpin haruslah memiliki kompetensi dalam bidang yang dipimpinnya. Tanpa adanya kompetensi, maka pemimpin tentu tidak akan bisa mencapai tujuan yang ingin dicapai karena ia sendiri tidak paham apa yang harus dilakukan.

• Konsistensi
Konsistensi mengacu pada kesesuaian antara kata dan tindakan dalam menangani suatu situasi. Konsistensi juga berarti pemimpin tersebut bisa diandalkan dalam menangani masalah. Pemimpin juga harus konsisten dalam menetapkan standar, jadi tidak boleh ada standar ganda, misalnya pemimpin melarang tindakan A, namun tindakan A ini dibolehkan untuk dirinya dan orang-orang terdekatnya.

• Loyalitas
Loyalitas berarti seseorang berani untuk membela demi orang lain.

• Keterbukaan
Keterbukaan berarti tidak ada hal yang ditutup-tutupi alias apa adanya.

Dalam sebuah organisasi, ada tiga jenis trust antara lain:

• Deterrence-Based Trust

Trust ini berdasarkan pada suatu ketakutan. Ini adalah suatu bentuk trust yang paling lemah. Individu yang terlibat dalam hubungan ini menaruh trust karena mereka takut akan konsekuensi yang dihasilkan dari tidak mematuhi aturan.

Umumnya, hubungan yang baru memunculkan trust seperti ini. Misalnya antara karyawan baru dengan atasannya. Pasti seorang individu akan mempercayai atasannya walaupun ia belum mempunyai pengalaman khusus yang membuatnya patut dipercaya.

• Knowledge-Based Trust

Trust inilah yang umumnya dijumpai di banyak organisasi. Trust ini berdasarkan pengetahuan dan sejarah yang telah terjadi dalam interaksi sehari-hari. Trust ini timbul ketika seseorang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai orang lain sehingga dapat memprediksikan tindakan mereka secara akurat.

Pada tingkat ini, perilaku yang inkonsisten tidak dapat menghancurkan kepercayaan. Jika ada penjelasan yang baik tentang inkonsistensi tersebut, maka bisa dimaafkan dan hubungan akan kembali seperti semula.

• Identification-Based Trust

Trust tingkat tertinggi ini timbul ketika sudah ada ikatan emosional antar pihak. Trust timbul karena setiap pihak saling memahami dan menghargai keinginan pihak lain. Trust ini tidak memerlukan kontrol lagi terhadap pihak lain karena sudah ada loyalitas yang tidak perlu dipertanyakan antar keduanya.

Contoh terbaik adalah pada hubungan suami-istri yang sudah lama menikah dan bahagia. Masing-masing saling memahami keinginan pasangannya tanpa harus bertanya. Namun contoh lain juga ada pada organisasi dimana orang-orang di dalamnya telah bekerja untuk waktu yang lama. Mereka telah memiliki pengalaman yang banyak dan saling mengenal luar dalam.

Idealnya, setiap tim dan organisasi selalu berusaha untuk mencapai trust di tingkat identification-based trust. Namun, karena trust sendiri adalah suatu proses, maka seiring dengan pengalaman yang dialami bersama, jika awalnya trust rendah maka bisa semakin meningkat jika lima dimensi diatas terdapat pada hubungan tersebut.



»»  Baca Selanjutnya...
Chef Online - Ada lima tuntutan yang harus dipenuhi untuk menjadi pemimpin masa kini - sebagai Pemimpin Super - bahkan untuk masa mendatang. Kekurang mampuan memenuhi salah satu saja dari lima tuntutan ini membuat kepemimpinan seseorang menjadi rendah efektivitasnya. Lima tuntutan kemampuan yang merupakan satu kesatuan tersebut adalah :

1. Cermat : diartikan teliti dalam menerima informasi. Pengkajian silang selalu dilakukan ( check and recheck ). Mampu berfikir dan bertindak sesuai dengan nalar yang sehat dan tidak begitu saja dapat dipengaruhi orang lain.Untuk itu tentunya ia harus memiliki wawasan yang luas agar dapat bertindak cermat dan benar ( general knowledge ).Ia harus selalu mau dan mampu untuk belajar secara terus menerus. Dengan perkataan lain, ia memiliki budaya belajar ( learning culture ).
2. Amanah : dimaksudkan sebagai mampu untuk dipercaya dalam melaksanakan tugas/pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Tentunya, tidak akan terjadi penyalahgunaan kekuasaan, kepercayaan, ataupun titipan yang diperikan kepadanya. Dia tahu apa tugas dan kewajiban serta tanggung jawabnya dan berupaya memenuhinya dengan sebaik-baiknya.Maka, dia tidak akan mau menerima amanah bila amanah tersebut tidak akan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Penerima amanah tidak hanya bertanggung jawab pada orang yang memberi amanah, tetapi dia juga merasa harus mempertanggungjawabkan lebih jauh lagi pada Sang Pencipta.Tanggung jawab tersebut adalah dengan tidak menyalahgunakan amanah yang diterimanya, menjaga dan memelihara hubungan baik dengan masyarakat sekitar, dan menjaga kelestarian alam dalam arti luas. Jadi bukan bertindak sewenang-wenang karena merasa kebetulan dengan amanah tersebut dia memiliki kekuasaan tertentu.
3. Memiliki keterampilan sesuai dengan tuntutan tugas,pekerjaan, dan tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya. Tanpa keterampilan ini seseorang tidak akan mungkin mampu memahami bagaimana cara melaksanakn tugas pekerjaannya dengan baik. Dalam hal ini termasuk keterampilan membangun sinergi dengan orang lain dalam upaya melaksanakan tugas dan pekerjaan agar berhasil dengan baik.
4. Mampu berkomunikasi dengan baik dengan berbagai cara komunikasi. Kemampuan komunikasi ini digambarkan dalam bentuk mampu untuk menyampaikan informasi dengan efektif dan mampu menyakinkan orang lain dengan baik.Kemampuan ini merupakan salah satu pilar untuk memperoleh kepercayaan dan rasa hormat dari orang lain. Dalam hal ini tidak akan terjadi masalah yang disebabkan kekeliruan dalam komunikasi (miscommunication).
5. Memiliki Integritas dan Konsistensi yang tinggi. yang dimaksud dengan integritas adalah satu kata dengan pikiran, perasaan, dan perbuatan. Tidak dikenal apa yang disebut dengan "agenda tersembunyi" (the hidden agenda) dalam berinteraksi dengan orang lain. Konsistensinya yang tinggi membuat orang lbih mudah memahami apa yang dikatakan ataupun dilakukannya.

Hanya dengan memenuhi lima tuntutan ini seseorang akan mampu membangun rasa percaya diri dan rasa hormat dari orang lain dan dari dirinya pada orang (timbal balik).

Brainware Management berperan besar dalam membantu memenuhi kelima tuntutan ini, melalui antara lain pemahaman mengenai diri sendiri dan orang lain, kemampuan mengerahkan potensi diri, memotivasi diri sendiri dan sebagainya. Brainware Management membantu meningkatkan kemampuan kepemimpinan melalui penguasaan tiga unsur dalam melibatkan manusia seutuhnya. Ketiga unsur dimaksud adalah Body & Mind-Brain/Mental-Emotions yang saling terkait satu sama lain, dengan tentunya tetap berlandaskan hati nurani.

»»  Baca Selanjutnya...
(Chef Online - Leadership) - Pemimpin dalam organisasi idealnya mempunyai kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasinya. Hanya saja, kasusnya tidak selalu seperti ini. Seringkali terjadi leadership gap, yang mengakibatkan kompetensi pemimpin saat ini jauh dari apa yang diharapkan pada saat ini maupun masa depan.

Center for Creative Leadership (CCL) melakukan survey terhadap 2,200 pemimpin dari 15 organisasi di tiga negara antara tahun 1006 hingga 2008. Survei ini menghasilkan sejumlah temuan menarik mengenai kepemimpinan. Tujuan dari penelitian CCL ini adalah untuk menentukan apakah level dan skill kepemimpinan saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan organisasi.

Penelitian ini berusaha untuk menjawab sejumlah pertanyaan berikut:
• Skill dan perspektif kepemimpinan apa yang menjadi kunci kesuksesan saat ini dan di masa depan?
• Seberapa kuat skill dan perspektif penting yang dimiliki pemimpin saat ini?
• Seberapa selaras kekuatan kepemimpinan saat ini dengan apa yang akan menjadi skill dan perspektif terpenting di masa depan?

Intinya, penelitian ini membahas mengenai leadership gap. Leadership gap adalah gap yang terjadi antara skill dan perspektif yang dibutuhkan organisasi, dibandingkan dengan skill dan perspektif kepemimpinan saat ini. Gap ini dapat disebabkan oleh dua hal, yakni ketika pemimpin sudah berfokus pada kompetensi yang tepat, namun belum menguasainya; atau ketika pemimpin tidak berfokus pada kompetensi/skill yang tepat.

Salah satu hasil dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tujuh kompetensi yang paling vital dalam kesuksesan, baik di masa kini maupun masa depan.

1. Leading people, yakni memberikan arahan serta memotivasi orang
2. Strategic planning, yakni menerjemahkan visi organisasi ke dalam strategi bisnis
3. Managing change, yakni menggunakan strategi yang efektif dalam menciptakan perubahan organisasional.
4. Inspiring commitment, yakni menghargai dan memberikan reward terhadap pencapaian karyawan
5. Resourcefulness, yakni bekerja secara efektif dengan manajemen puncak
6. Doing whatever it takes, yakni mau melakukan pengorbanan meskipun dalam kondisi yang kurang baik
7. Being a quick learner, yakni dapat cepat mempelajari pengetahuan teknis maupun bisnis.

Pada masa kini dan masa depan, kompetensi-kompetensi tersebutlah yang paling penting untuk dimiliki pemimpin organiasasi. Oleh karena itu, bagi mereka yang punya kekuatan dalam kompetensi tersebut akan tetap dibutuhkan oleh organisasi di masa depan. Namun, bagi yang belum menguasai kompetensi tersebut maka harus belajar lebih banyak lagi, supaya mereka punya kompetensi yang relevan dengan kebutuhan organisasi.
Berdasarkan penelitian, ternyata level kepemimpinan saat ini masih kurang kuat dalam menjalankan peran pemimpin secara efektif. Hal ini terjadi di level organisasi, industri, bahkan negara yang disurvei. CCL menyebutnya sebagai `current leadership deficit`.

Level kompetensi sendiri dibagi menjadi empat area, yang menggambarkan level kekuatan saat ini dibandingkan dengan tingkat kepentingannya.
1. Over-investment: kompetensi yang merupakan kekuatan, namun tidak dianggap penting
• membangun dan memperbaiki hubungan
• compassion (rasa kemanusiaan)
• dapat beradaptasi terhadap budaya
• menghargai perbedaan individual
• pengendalian diri
• self-awareness

2. Reserves: kompetensi yang bukan merupakan kekuatan dan tidak dianggap penting
• mengkonfrontasi orang lain
• membuat orang lain nyaman
• mengelola karir

3. On-Track: kompetensi yang merupakan kekuatan, dan dianggap penting
• cepat belajar
• resourcefulness
• participative management
• doing whatever it takes

4. Key Gaps: kompetensi yang bukan merupakan kekuatan, namun penting
• memimpin orang lain
• strategic planning
• menginspirasi komitmen
• mengelola perubahan
• employee development
• menjaga keseimbangan work-life balance
• mengambil keputusan
(Bersambung)
»»  Baca Selanjutnya...
(Chef Online - Leadership) - Setidaknya terdapat tujuh kompetensi penting di masa depan, yang mengalami leadership gap paling besar. Berikut ini adalah sejumlah ide yang dapat digunakan untuk mengembangkan ketujuh kompetensi tersebut.

Leading people
Pemimpin ini pandai dalam memberikan pengarahan serta memotivasi orang lain. Pemimpin ini tahu benar bagaimana cara berinteraksi dengan staf yang dapat membuat mereka termotivasi. Mereka dapat mendelegasikan kepada karyawan secara efektif, membuka peluang lebih luas kepada karyawan, berlaku secara adil, dan merekrut orang yang berbakat ke dalam tim.

Langkah yang dapat dtempuh untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• mengkomunikasikan perilaku dan skill tertentu yang terkait dengan mengelola orang lain. Pastikan bahwa manajer tahu dan paham peran mereka masing-masing dalam hal ini.
• mengukur perilaku dan skill dari pemimpin, yakni dengan menggunakan assessment yang konsisten, seperti 360 assessment.
• membuat program pelatihan dan assignment yang bersifat leadership development
• membentuk grup internal untuk melakukan forum diskusi dan sharing mengenai best practice dalam hal mengelola tim
• menciptakan lingkungan yang kaya akan feedback. Buat program mentoring dan train management yang dapat mendorong feedback secara efektif.

Strategic planning
Skill ini meliputi menerjemahkan visi ke dalam strategi bisnis yang realistis. Mereka mengartikulasikan tujuan dan strategi jangka panjang, lalu mengembangkan rencana yang dapat menyeimbangkan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, melakukan pembaharuan terhadap rencana, serta membuat rencana contingency.

Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• mengkomunikasikan strategi, termasuk membicarakan faktor yang mempengaruhi strategi ini dengan tim manajemen dan lainnya
• memberikan pengajaran strategic skill, diantaranya strategy development, change management, hingga risk management
• melibatkan manajer yang muda dan punya masa depan cerah dalam pengembangan strategi
• ekspos para manajer terhadap skill yang dibutuhkan, misalnya dengan melakukan rotasi secara regular, sehingga lebih banyak manajer yang siap untuk posisi manajer senior
• dukung terjadinya learning, dengan menyelenggarakan mentoring dan coaching

Inspiring Commitment
Pemimpin dapat membangun komitmen dengan cara memberikan penghargaan dan reward atas pencapaian dari subordimat. Mereka tidak ragu untuk memuji di depan public, serta tahu benar mengenai apa yang dapat memotivasi orang untuk mencapai kinerja terbaik.

Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• mengklarifikasikan visi kepada tiap karyawan, sehingga mereka paham peran dan tanggung jawab masing-masing dalam merealisasikan visi organisasi
• mengkomunikasikan visi dan arahan yang jelas secara efektif juga konsisten
• mendorong manajer untuk menciptakan standar tinggi untuk kinerja dan kompetensi interpersonal
• menciptakan peluang bagi para manajer untuk memberikan penghargaan pada karyawannya secara public

Managing change
Seorang pemimpin harus dapat mengembangkan strategi yang efektif dalam melakukan perubahan organisasi. Ia memandang perubahan sebagai sesuatu yang positif, melakukan perencanaan, mengatasi penolakan, beradaptasi terhadap tekanan eksternal, serta melibatkan lainnya dalam merancang dan mengimplementasikan perubahan.

Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• menyelenggarakan kelas, diskusi atau kursus mengenai change management
• mendorong manajer untuk melibatkan orang lain dalam mengambil keputusan di tengah proses perubahan organisasi
• menciptakan ruang bagi manajer untuk saling bertukar pikiran dan solusi
• menerima penolakan karyawan, dan membantu manajer untuk mengembangkan strategi dalam menghadapi penolakan tersebut

Employee development
Pemimpin yang memiliki skill ini dapat memberikan coaching pada karyawan untuk meningkatkan kinerja, panduan, mendorong pengembangan karir, dan memastikan bahwa karyawan paham perannya masing-masing.

Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• mendorong manajer untuk mendiskusikan tujuan karir dengan karyawan secara regular
• mengembangkan rencana suksesi

Balancing personal life and work
Seorang pemimpin dengan work life balance dapat mengatur keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi, sehingga tidak ada yang terlantar diantara keduanya.

Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• membangun awareness mengenai personal style dan perilaku
• melakukan diskusi mengenai kapan, dimana dan bagaimana untuk berkata tidak
• mengajarkan skill organisasional dan delegasi
• menyelenggarakan program untuk menurunkan tingkat stress, yoga ataupun senam
• pertimbangkan adanya layanan on-site, seperti program day care, gym dan mengelola keuangan
• membuat kebijakan seperti telecommuting dan flex time, untuk membantu karyawan dalam mengelola waktunya

Decisiveness
Pemimpin tidak ragu dalam mengambil keputusan, dan ia dapat mengambil keputusan ketika memang dibutuhkan.

Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:
• membantu manajer dalam menentukan prioritas
• membuat proses yang dapat membantu manajer dalam memperoleh informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan
• membantu manajer untuk mengambil risiko yang terukur
• menciptakan lingkungan kerja yang lebih efisien
• mengembangkan criteria dan proses untuk pengambilan keputusan dalam organisasi.
»»  Baca Selanjutnya...
(Chef Online - Leadership) - Di dunia yang dinamis ini, suka atau tidak suka, kita harus menjalani apa yang disebut dengan perubahan. Transformasi atau perubahan organisasi sudah menjadi sebuah isu global sejak didengungkannya revolusi industri. Organisasi yang ingin menjadi pemenang dalam persaingan bisnis abad 21 harus mampu melakukan berbagai perubahan dan inovasi organisasional dan tidak bisa melepaskan diri dari perubahan yang tak terhindarkan.

Perubahan organisasi menjadi issue yang sangat relevan dalam bisnis sehingga perlu dipersiapkan manajer-manajer yang dapat mengakomodir isu-isu yang berhubungan dengan konteks perubahan tersebut. Misalnya, mengelola ketidakpuasan dengan status quo diantara karyawan, kebutuhan akan model atau visi masa depan yang akan menuntun redesain organisasi dan kebutuhan akan proses perubahan yang dikelola dengan baik untuk membantu karyawan memodifikasi sikap dan perilaku mereka.

Tiga kondisi di atas harus dikelola dengan penuh kekuatan untuk melewati penghalang perubahan yang datang justru dari para manajer maupun karyawan ketika merasakan perubahan budaya. Mereka menganggap dengan perubahan berarti kehilangan kekuasaan atau power seperti bergesernya responsibility dan accountability, kehilangan pola hubungan dengan adanya manajemen baru, kehilangan dalam hal reward khususnya status dan uang serta kehilangan identitas dengan adanya perubahan strategi organisasi.

Di perusahaan tempat saya bekerja, juga sedang diimplementasikan suatu proses transformasi yang tentunya menyita banyak pikiran, tenaga dan uang. Saya sering mendengar percakapan antar rekan-rekan dan bahkan beberapa top manajer yang meragukan apakah proses transformasi akan berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan?

Orang-orang lama di kantor saya bersaksi bahwa selama lebih dari satu dekade mereka bekerja di perusahaan yang sama, maka hampir setiap pemimpin ingin tampil melakukan perubahan, namun masalahnya, ganti pemimpin ganti konsep pemikiran, dan akhirnya perubahan2 yang terjadi tidak berlangsung secara berkesinambungan dan belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Padahal effort yang diberikan sangat tinggi, bahkan sampai melibatkan beberapa konsultan terkenal di dunia. Melihat kondisi tersebut, saya semakin memahami… tidaklah mudah dalam mewujudkan transformasi, apalagi yang berhubungan dengan organisasi. Makin besar impact perubahan yang diinginkan, semakin besar effort dan pengorbanan yang dibutuhkan. Namun perlu diingat, bukan berarti perubahan tidak perlu atau kita pesimis terhadap perubahan…Perubahan adalah suatu keharusan, jika kita ingin tetap survive!! Namun kita harus benar-benar menyiapkan dan menentukan arah yang jelas yang akan kita capai dan bagaimana mewujudkannya.

Perubahan dilakukan karena di masa yang akan datang diperlukan cara yang berbeda dalam melakukan sesuatu. Tetapi perubahan pasti menghadapi berbagai kesulitan, masalah dan tantangan selama prosesnya, sehingga perlu pemimpin yang kuat dan aktif untuk menghadapinya. Pemimpin memegang peranan penting dan vital untuk menyukseskan proses perubahan dan memberikan hasil sesuai yang diinginkan, dengan menyelesaikan permasalahan yang ada. Meskipun telah ada persiapan dan perencanaan yang cukup, permasalahan dipastikan selalu ada, dan tidak ada jaminan proses ini akan berjalan atau memberikan hasil sesuai yang diinginkan.

Menurut survey McKinsey (2006), hanya 6% dari proyek ini berhasil dengan baik (32% berhasil dengan catatan). Jadi bisa disimpulkan sebagian besar proyek mengalami kegagalan. Sebuah penelitian dari Ernst & Young dan American Quality Foundation, menemukan juga sebagian besar (mayoritas) proyek peningkatan kualitas gagal mencapai hasil yang maksimal. Survey lain menunjukan 2/3 moral karyawan lebih buruk atau tidak berubah sama sekali terhadap perubahan. Juga ditemukan bahwa 60% sikap karyawan terhadap perubahan adalan netral, skeptis dan resistan.

Mengapa orang-orang cenderung takut, tidak suka dan skeptis terhadap perubahan?
• Mereka takut kehilangan sesuatu yang berharga yang selama ini telah didapatkan (takut kehilangan kenyamanan yang diperoleh selama ini)
• Mereka kurang mempercayai pemimpin mereka dan tidak mengerti motif-motifnya
• Mereka tidak melihat potensi keuntungan dari perubahan yang dilakukan
• Mereka kurang memiliki toleransi individu terhadap perubahan (resistensinya sangat tinggi)
• Merasa sudah cukup maksimal pada posisi dan kondisi saat ini.

Disamping faktor manusia, banyaknya kegagalan dari proyek perubahan disebabkan oleh hal-hal tersebut di bawah ini :
• Kurangnya alasan yang menarik dan kuat untuk melakukan perubahan atau kekurangtahuan terhadap keuntungan yang akan diperoleh dari perubahan.
• Kurangnya kejelasan tujuan, disertai kurangnya perencanaan atau persiapan yang cukup
• Kurangnya dukungan dari level tertinggi (top management), kurangnya peran aktif, keterlibatan dan pengawasan para pemimpin di setiap lini.
• Kurangnya proses komunikasi yang baik, yang menimbulkan salah pengertian, kurang lancarnya arus informasi dan menciptakan halangan (barrier) antar pihak yang berkepentingan.
• Kurangnya keterlibatan pihak terkait, terutama pihak yang akan terkena efek perubahan
• Kurangnya konsistensi terhadap tujuan yang akan dicapai dan kurangnya kontrol terhadap waktu penyelesaian.

Melihat kondisi di atas, pemimpin di semua lini harus memainkan peran aktif, menampilkan kemampuan kepemimpinan yang maksimal dan menjadi perencana, penggerak dan pengontrolnya. Pemimpin menjadi kunci untuk memimpin tim dan anggota untuk menyelesaikan proses ini dengan baik dan menjadi jembatan dari cara lama ke cara baru. Perlu disadari pula para pemimpin juga bagian dari karyawan yang pasti memiliki reaksi yang sama tehadap perubahan itu, tetapi dituntut untuk bisa menampilkan perilaku positif dan produktif, seperti membantu yang lain (anggota tim), memberikan pengarahan yang jelas, menjawab pertanyaan dengan baik dan menyediakan jalan atau fasilitas yang diperlukan.

Mereka harus terus berkomunikasi dan mengarahkan, memberikan inspirasi dan motivasi, menjadi model atau contoh perubahan, dan memberikan atau memfasilitasi pelatihan yang diperlukan. Untuk itu, pemimpin harus mengetahui arah perubahan, menyiapkan sumber daya yang diperlukan, menentukan tujuan akhir dan keuntungan yang hendak dicapai, mengantisipasi resiko yang mungkin timbul dan menyiapkan cara mengontrolnya. Untuk memperjelas, maka dapat disimpulkan peranan yang diperlukan dari seorang pemimpin untuk menyukseskan proyek perubahan adalah sebagai berikut :

• Membangun kondisi yang positif dan kondusif untuk mendukung berjalannya proses dengan baik dan sesuai dengan rencana.
• Membangun arah yang jelas pada proyek perubahan bagi tim atau organisasi yang dipimpinnya
• Mengembangkan semangat setiap anggota tim untuk melakukan dan mencapai tujuan perubahan
• Menganalisa dan memberikan kebutuhan yang diperlukan dalam proses perubahan
• Memberikan saran, nasihat dan solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Mendengar secara aktif terhadap segala hal mengenai perubahan. Secara aktif berarti mendorong orang untuk berperan aktif dan memberikan pendapat tentang proyek yang sedang dilakukan
• Mencari dan mengumpulkan berbagai macam ide dari berbagai sumber dan menggalang komunikasi dengan semua pihak terkait.
»»  Baca Selanjutnya...